Kamis, 21 Januari 2021

MENUJU KELUARGA SAMARA

 

MENUJU KELUARGA SAMARA

Membina keluarga SAMARA (Sakinah Mawaddah Warahmah), tidaklah semudah membalik telapak tangan. Ada banyak faktor yang menjadi penunjangnya. Adapun salah satu faktor penting yang menjadi dasar terbentuknya keluarga samara adalah pengetahuan dan tekad kuat dari masing-masing suami istri dalam menjalani hak dan kewajibannya.

          Cobalah renungkan wahai saudariku tercinta, seorang gadis ingin menikah namun pada saat malam pernikahan, seorang ustadz memberitahukan tentang hak-hak suami yang harus dipenuhi. Ternyata dia menganggap cukup berat dan sulit, sehingga langsung mundur dan mengatakan “Saya tidak berminat untuk menikah saat ini, semoga nanti Allah memberi kepadaku jodoh yang lebih baik.”

          Boleh jadi kasus ini dianggap aneh. Namun ada suatu peristiwa yang hampir sama dengan kisah di atas. Sebagaimana yang kita dapatkan di dalam hadits Nabi yang diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri Rahdyiallahu anhu bahwa ada seorang laki-laki bersama puterinya datang kepada Nabi dan berkata, “Puteriku tidak mau menikah.” Maka beliau berkata kepadanya, “Taatilah bapakmu” Dia berkata, “Aku tidak mau menikah hingga engkau kabarkan kepdaku tentang hak suami atas istrinya?” Hingga ia mengulang-ulangi pernyataannya.

          Beliau bersabda,

          “Hak suami atas istrinya, bila suami ada borok lalu ia menjilatinya atau hidungnya mengalirkan nanah atau darah kemudian ia menjilatinya maka ia belum menunaikan haknya. Ia berkata, “Aku tidak akan menikah selamanya. “maka beliau bersabda kepada (bapaknya), “Janganlah kamu nikahkah kecuali atas izinya.” (Shahih : HR. Imam Ibnu Hibban)

          Bukankah gadis di atas seorang wanita shalihah dan bertakwa, yang ingin mengetahui hak-hak suami sebelum memenuhi keinginan bapaknya untuk menikah agar nanti tidak menyia-nyiakan hak-hak suami karena tidak mampu, sehingga di akhirat kelak akan ditanya tentang tanggung jawab tersebut? Berapa besar perbedaan antara gadis di atas dengan gadis-gadis zaman sekarang yang dengan mudah menerima tawaran pernikahan meskipun tidak faham dan tidak berusaha faham bagaimana tanggung jawab dan tugas rumah tangga, sehingga kebanyakan rumah tangga mereka kandas di tengah jalan.

          Banyak remaja tergiur untuk menikah karena seringnya nonton film dan sinetron murahan, yang menggambarkan kehidupan yang romantis dan jalinan cinta yang indah. Motivasi menikah karena terpengaruh oleh gaya film atau sinetron akan merapuhkan kehidupan rumah tangga mereka setelah menikah karena motivasinya bukan ilmu syar’i. Oleh sebab itu para remaja baik laki-laki maupun wanita yang akan menikah, sebaiknya diberi bimbingan tentang kewajiban-kewajiban berumah tangga, sebelum mengenal hak-hak mereka. Bila hal ini dilakukan, maka lambat-laun kasus perceraian dapat ditekan sekali mungkin. Dan keharmonisan rumah tangga dapat tercapai dan idealisme hidup mampu terwujud.

.

.

.

Sumber: Cerdas Memilih Jodoh, hal 142-145, Oleh Zainal Abidin bin Syamsuddin

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar