Tampilkan postingan dengan label Surat Terbuka untuk Para Istri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surat Terbuka untuk Para Istri. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 November 2021

Rumah Tangga Adalah Nikmat Ilahi

 

Rumah Tangga Adalah Nikmat Ilahi

 

Saudariku, pernikahan adalah anugerah dan nikmat yang sangat besar bagi umat manusia. Allah menyebut hubungan cinta kasih sepasang suami istri sebagai salah satu tanda kekuasaan-Nya bagi siapa saja yang mau menggunakan akalnya.

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.”(QS.Ar-Rum 21).



Coba renungi, bagaimana hubungan cinta kasih terjalin di antara sepasang insan laki-laki dan perempuan yang sebelumnya tidak saling mengenal, berhubungan atau saling bertatap muka. Bahkan, sosok pria itu belum pernah terlintas di relung hatinya. Lalu kuasa Allah keduanya bertemu dan dipersatukan dalam satu ikatan yang sangat kuat, yaitu tali pernikahan. Kemudian Allah Ta’ala menumbuhkan perasaan cinta kasih sayang dalam hati mereka. Keduanya saling mengasihi dan menyayangi.

Istri merasakan ketenangan dan kedamaian bila berada di sisi suaminya, demikian pula sebaliknya. Sehingga tak ada sesuatu yang lebih mereka sukai selain selalu bersama. Suami istri ibarat pakaian bagi pasangannya; saling memberi kehangatan, menutupi, merekatkan, melindungi dan saling membutuhkan. Sungguh, sebuah ikatan hati yang sangat erat, sehingga Rasulullah , mengatakan :

“Kami tidak melihat ada solusi bagi sepasangan insan yang saling jatuh cinta selain menikah.”(Hadits shahih riwayat Ibnu Majah. Dishahihkan oleh al-Albani dalam kitabnya, Shahih Sunan Ibnu Majah (no.1847). Saudariku, para istri yang mulia. Sadarilah, rumah tangga yang Allah karuniakan kepadamu itu adalah sebuah anugerah yang sangat besar.

Namun, sebagai manusia kita acap kali lalai. Kadang kala kita baru dapat merasakan besarnya sebuah nikmat dan baru bisa menyadari agungnya sebuah nikmat, justru setelah nikmat itu ditarik darinya.

Banyak orang yang baru merasakan besarnya nikmat sehat justru setelah ia sudah jatuh sakit. Seseorang baru merasakan besarnya nikmat penglihatan dan pendengaran, justru setelah penglihatan dan pendengarannya telah diambil oleh Allah Ta’ala. Seseorang baru merasakan nikmat kaya justru setelah ia jatuh miskin, dan seterusnya..

Maha benar Allah Ta’ala dalam firman-Nya:

“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-ku yang bersyukur.” (QS.Saba’:13)

Wahai para istri. Suami yang Allah anugrahkan kepadamu adalah sebuah nikmat.

Lihatlah di sekitarmu berapa banyak wanita yang begitu mengharapkan kehadiran seorang suami. Mereka ingin sekali mencicipi sebuah pernikahan, namun takdir Allah, jodoh yang dinanti-nantikan tak kunjung datang. Di sisi lain, berapa banyak wanita yang kehilangan suaminya dan harus berpisah dengan orang yang dicintainya.

Jadi, apabila sekarang Allah Ta’ala telah menganugrahkan kepadamu seorang suami, bukankah itu merupakan suatu nikmat yang sangat besar? Apalagi bila suami yang Allah anugerahkan tersebut adalah seorang suami yang shalih dan taat beragama.

Akan tetapi, mengapa masih saja banyak di anatara kita yang menghadapi suami dengan keluh kesah dan dengan rasa tidak puas?

Para istri yang mulia. Anak-anak yang Allah anugerahkan kepadamu adalah sebuah nikmat.

Perhatikanlah sekelilingmu.

Berapa banyak pasangan yang begitu mengharapkan kehadiran anak, namun Allah belum berkehendak memenuhi keinginan mereka. Berapa banyak wanita ingin sekali menjadi seorang ibu, namun kehendak Allah berbicara lain, sehingga ia tak mampu mengandung dan melahirkan.

Jadi, mengapa masih banyak dari kita yang mengurus anak-anak hanya dengan mengeluh dan menggerutu?

Anak rewel, kita mengeluh. Anak nakal, kita mengeluh. Anak sakit, mengeluh. Anak tidak cerdas, mengeluh. Dan ketika letih mengasuh anak pun kita mengeluh.

Ketahuilah, ini adalah tanda-tanda orang yang tidak mensyukuri nikmat Allah.

Camkanlah baik-baik!

Jangan sampai Allah Ta’ala mencabut nikmat itu dari kita hanya karena kita lalai menuaikan kewajiban untuk mensyukurinya.

Allah berfirman:

“Dan (ingatlah) ketika Rabbmu memaklumkan:’Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS.Ibrahim : 17)

Dan sadari juga, salah satu hikmah Allah menimpakan suatu bala bencana kepada anak Adam adalah agar hamba yang sedang lalai dapat kembali mengingat Allah dan merasa butuh kepada-Nya.

.

.

.

 

Sumber : Surat Terbuka untuk Para Istri, Hal 7-11, Ummu Ihsan & Abu Ihsan al-Atsari.