Tata Cara Walimah Sesuai Sunnah
Islam
telah menganjurkan kepada para suami supaya mengadakan walimah dengan memberi
makan kepada sanak kerabat, teman-teman, fakir miskin, dan orang-orang susah,
sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah Ta’ala dan pengakuan atas
segala karuniaNya. Dan tidak perlu memaksakan kemampuan, karena Allah Ta’ala
berfirman,
“Allah
tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah
berikan kepadanya.”(At-Thalaq:7)
Setelah
akad nikah harus diadakan walimah, sebab Nabi ﷺ memerintahkan kepada Abdurrahman bin
Auf Rahdyiallahu
anhu dan beliau ﷺ bersabda,
“Semoga Anda diberkahi Allah, maka adakanlah
walimah walaupun dengan seekor kambing.” (Shahih
: HR. Imam Ahmad no.3)
Dari Anas Rahdyiallahu
anhu, ia berkata, “Saya tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ melakukan walimah dengan istri-istrinya seperti
melakukan walimah dengan Zainab Rahdyiallahu anha,
karena beliau menyembelih kambing. (Shahih:
HR. Imam al-Bukhari)
Boleh
juga walimah diadakan hanya dengan makanan sederhana walaupun tidak bercampur
dengan menu daging. Anas Rahdyiallahu anhu berkata, “Pernah Nabi ﷺ bermukim di daerah antara khaibar dengan shafiyah
binti Hujayy Rahdyiallahu anha, dan saya mengundang kaum
muslimin untuk menghadiri walimahnya. Dalam walimah itu tidak disiapkan makanan
dan daging. Rasulullah ﷺ menyuruh menggelar hamparan yang terbuat dari kulit, lalu diletakkan di
atasnya kurma, bubuk susu, dan minyak samin. Itulah walimah beliau. (Muttafaqun’Alaih)
Dari
Shafiyah binti Syaibah Rahdyiallahu anha, ia berkata bahwa, “Nabi ﷺ melakukan walimah dengan salah seorang istrinya
dengan dua mud gandum.”(Shahih: HR.Imam
Bukhari)
Selain itu, dalam walimah, islam mengajarkan untuk
tidak mengkhususkan undungan hanya untuk orang kaya saja tanpa mengundang orang
miskin. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi ﷺ,
“Seburuk-buruk makanan adalah makanan walimah yang
menghalangi orang-orang yang mau datang dan mengundang orang-orang yang menolak
datang. Barangsiapa yang tidak mengabulkan undangan maka telah bermaksiat
kepada Allah dan RasulNya.” (Shahih: HR.
Imam Bukhari)
Siapa yang diundang untuk menghadiri walimah
hendaklah ia memuliakan undangan itu. Menghadiri pesta walimah merupakan
kebiasaan para generasi salaf, berdasarkan hadits di atas dan hadits di bawah
ini:
“Barangsiapa yang diundang untuk menghadiri walimah
hendaklah datang.” (Shahih: HR. Imam
Bukhari)
Bahkan, apabila seseorang sedang berpuasa dan dia
mendapat undangan walimah, sebaiknya ia tetap mendatangi walimah tersebut, Nabi
ﷺ bersabda,
“Jika di antara kalian diundang untuk menghadiri
walimah maka hendaklah hadir. Bila sedang berpuasa hendaklah berdoa, dan
apabila tidak berpuasa hendaklah makan.”(Shahih:
HR. Imam Muslim)
Begitulah pesta pernikahan ala Nabi ﷺ yang meringankan semua pihak. Keduanya hidup
berbahagia dan mesra, yang hendaknya dijadikan contoh bagi orang-orang
sesudahnya.
Namun fenomena zaman sekarang banyak kaum muslimin
meninggalkan cara yang ditempuh Rasulullah ﷺ dalam menyelenggarakan walimah untuk putrinya. Mereka
mengadakan walimah dengan mengikuti kebiasaan adat setempat. Tidak segan-segan
mereka mengeluarkan biaya besar untuk menyelenggarakan pesta mewah yang dianggap
bergengsi, walau kadang dengan pinjaman sana-sini untuk menyewa gedung,
menyajikan makanan mewah dan berlimpah, menyewa pelaminan megah dan tata
riasnya, serta gemerlapnya gaun pengantin yang seringkali bertentangan dengan
syariat.
Belum lagi setelah pesta pernikahan, bulan madu di
luar negeri atau hotel bintang lima. Lalu, pengantin laki-laki harus menyiapkan
rumah beserta isinya dengan perabotan yang lengkap. Hal ini sungguh akan
membuat sebagian pemuda pesimis untuk menikah.
Sungguh, islam agama yang sangat mulia. Ia menganjurkan
umatnya untuk hidup sederhana dan apa adanya dalam berbagai hal. Islam sangat
menolak gaya hidup penuh kemunafikan dan bermewah-mewahan. Islam menganjurkan
acara pesta pernikahan setelah akad nikah berlangsung secara sederhana dan
sesuai kemampuan. Pernikahan adalah ikatan suci dan cara sakral yang sebaiknya
dihadiri oleh orang-orang shalih dan baik. Mereka berkumpul untuk mengucapkan
pujian doa dan selamat agar selalu mendapat rahmat dan barakah dari Allah Ta’ala.
.
.
.
Sumber: Cerdas Memilih Jodoh, hal 103-107, Oleh
Zainal Abidin bin Syamsuddin

Terimakasih ukthi Sholehah, ilmunya sgt bermanfaat alhamdulillah
BalasHapusSama2 kakak :)
BalasHapus