Kriteria Calon
Suami
Banyak
kriteria yang diajukan para gadis dan keluarganya pada saat menerima calon
suami yang datang untuk melamar. Ada yang realistis dan ada pula yang tidak
logis. Secara umum, seorang wanita bisa memilih pendamping hidup karena nasab,
agama, akhlak, pekerjaan, dan keserasian. Namun pilihan primer harus
mengutamakan segi ilmu, akhlak, agama maupun sosial, Rasulullah ﷺ bersabda :
“Apabila kamu didatangi orang yang kamu sukai
agama dan akhlaknya, maka kawinkan ia. Jika kalian tidak melakukannya,
maka akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.” (Shahih: Imam at-Trimidzi no.1084-1085).
Perlu
menjadi pertimbangan bersama bahwa semakin serasi dan setara status laki-laki
dan wanita, peluang untuk meraih kesuksesan dan keberhasilan dalam berkeluarga
lebih besar, lebih terjamin tidak mengalami kegagalan. Adapun laki-laki yang
pantas menjadi pendamping hidup wanita shalihah adalah sebagai berikut:
1. Memiliki
kejujuran dan keterbukaan. Sejak awal proses ta’aruf, sebaiknya calon suami
tidak menyembunyikan sesuatu apapun kepada calon istri pada saat melamar,
terkait dengan watak, kecondongan dan hobi.
2. Bertakwa,
bersih, wara’, dan takut kepada Allah Ta’ala baik di tempat terbuka maupun
tersembunyi. Ia tidak berbicara kepada istrinya kecuali membawa kedamaian, dan
tidak bermuamalah dengannya kecuali muamalah yang baik. Ia tidak memberikan
makanan dan pakaian kepada keluarganya kecuali yang halal.
3. Laki-laki
yang menjadikan agama dan akhlak sebagai tolak ukur memilih pasangan hidup. Ia
lebih memperhatikan kualitas calon istri sebelum melihat penampilannya.
4. Laki-laki
yang realistis dalam mengajukan tuntutan dan kebutuhan, sehingga tidak
membebani istrinya dengan pekerjaan berat di dalam rumah maupun di luar rumah.
5. Laki-laki
bijaksana yang mampu menyelesaikan setiap perselisihan dan tidak suka
mengungkit-ungkit masalah yang telah lewat.
6. Mampu
memelihara kebersihan rohani dan tidak mengabaikan kebersihan jasmani, karena
kedua-keduanya merupakan bagian dari syariat Islam. Menyukai hidup tertib dan
disiplin, mampu membagi tugas harian dengan teratur untuk istri dan
anak-anaknya, bersungguh-sungguh dan ikut serta dalam mendidik dan merawat
anak-anak.
7. Seorang suami
yang tidak banyak bepergian tanpa mengajak istri dan anak-anaknya. Apabila
terpaksa bepergian dalam jangka waktu yang lama, ia membawa serta keluarganya.
8. Seorang suami
membantu istrinya mempersiapkan diri menghadapi hari akhirat dengan mendorong
nya untuk menghadiri majelis-majelis dzikir dan membantu meringankan bebannya.
9. Laki-laki
yang percaya pada kesucian dan akhlak istri sehingga ia tidak berburuk sangka
kepadanya karena sebab-sebab yang sepele. Ia tidak menjadikan kecurigaan
sebagai dasar dalam bermuamalah.
10. Mampu menjaga
semua rahasia istri, tidak pernah menceritakan rahasia sekecil apapun kepada
orang lain. Tidak suka memukul, menghina, dan mengejeknya.
11. Menafkahi
istri dan anak-anaknya secara wajar, dengan tidak berlebihan dan tidak pula
terlalu pelit, sebagaimana yang telah ditegaskan Rasulullah ﷺ dalam sabdanya,
“Nikmat harta yang baik adalah yang
dimiliki laki-laki yang shalih.”
(Shahih:
Diriwayatkan oleh Imam al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah, 10/91,2495.)
12.Seorang suami
yang berbicara kepada istri dengan cara
yang baik dan lembut serta menarik. Kata-kata yang baik yang memiliki
pengaruh terhadap jiwa. Ketika istri berbicara, ia mendengar pendapatnya.
13. Mampu
mempergauli istri secara makruf dan menghormatinya, sementara sang istri pun
mengormatinya dan tidak merasa takut. Ia memuliakan istri dan mengangkat
derajatnya, senang menasihatinya jika melakukan keselahan sehingga istri merasa aman dan tenteram hidup
bersamnya.
14. Seorang suami
yang bersuka cita dengan segala nilai hikmah dan perbuatan yang baik serta amal
shalih.
15. Seorang suami
yang mencintai istrinya dan senantiasa memberi motivasi dalam beramal. Apabila
menghukum istrinya maka ia lakukan dengan cara yang sangat bijaksana. Apabila
marah, ia tetap bersikap adil, dan jika memberi ia sangat pemurah.
Sumber:
Cerdas Memilih Jodoh, hal 10-13, Oleh Zainal Abidin bin Syamsuddin.

Masya Allah tabarakallah.. hatur nuhun ilmunya neng 🤗 semangat terus nulisnya biar terus menebar ilmu yg bermanfaat 😊
BalasHapusSami2 tthku, ashiappp in syaa Allah semangatt teruss hihii
BalasHapus