Minggu, 04 Oktober 2020

Kriteria Calon Suami


Kriteria Calon Suami

Banyak kriteria yang diajukan para gadis dan keluarganya pada saat menerima calon suami yang datang untuk melamar. Ada yang realistis dan ada pula yang tidak logis. Secara umum, seorang wanita bisa memilih pendamping hidup karena nasab, agama, akhlak, pekerjaan, dan keserasian. Namun pilihan primer harus mengutamakan segi ilmu, akhlak, agama maupun sosial, Rasulullah bersabda :

“Apabila kamu didatangi orang yang kamu sukai agama dan akhlaknya, maka kawinkan ia. Jika kalian tidak melakukannya, maka akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.” (Shahih: Imam at-Trimidzi no.1084-1085).

Perlu menjadi pertimbangan bersama bahwa semakin serasi dan setara status laki-laki dan wanita, peluang untuk meraih kesuksesan dan keberhasilan dalam berkeluarga lebih besar, lebih terjamin tidak mengalami kegagalan. Adapun laki-laki yang pantas menjadi pendamping hidup wanita shalihah adalah sebagai berikut:

1.   Memiliki kejujuran dan keterbukaan. Sejak awal proses ta’aruf, sebaiknya calon suami tidak menyembunyikan sesuatu apapun kepada calon istri pada saat melamar, terkait dengan watak, kecondongan dan hobi.

2. Bertakwa, bersih, wara’, dan takut kepada Allah Ta’ala baik di tempat terbuka maupun tersembunyi. Ia tidak berbicara kepada istrinya kecuali membawa kedamaian, dan tidak bermuamalah dengannya kecuali muamalah yang baik. Ia tidak memberikan makanan dan pakaian kepada keluarganya kecuali yang halal.

3.   Laki-laki yang menjadikan agama dan akhlak sebagai tolak ukur memilih pasangan hidup. Ia lebih memperhatikan kualitas calon istri sebelum melihat penampilannya.

4. Laki-laki yang realistis dalam mengajukan tuntutan dan kebutuhan, sehingga tidak membebani istrinya dengan pekerjaan berat di dalam rumah maupun di luar rumah.

5. Laki-laki bijaksana yang mampu menyelesaikan setiap perselisihan dan tidak suka mengungkit-ungkit masalah yang telah lewat.

6.   Mampu memelihara kebersihan rohani dan tidak mengabaikan kebersihan jasmani, karena kedua-keduanya merupakan bagian dari syariat Islam. Menyukai hidup tertib dan disiplin, mampu membagi tugas harian dengan teratur untuk istri dan anak-anaknya, bersungguh-sungguh dan ikut serta dalam mendidik dan merawat anak-anak.

7. Seorang suami yang tidak banyak bepergian tanpa mengajak istri dan anak-anaknya. Apabila terpaksa bepergian dalam jangka waktu yang lama, ia membawa serta keluarganya.

8. Seorang suami membantu istrinya mempersiapkan diri menghadapi hari akhirat dengan mendorong nya untuk menghadiri majelis-majelis dzikir dan membantu meringankan bebannya.

9.  Laki-laki yang percaya pada kesucian dan akhlak istri sehingga ia tidak berburuk sangka kepadanya karena sebab-sebab yang sepele. Ia tidak menjadikan kecurigaan sebagai dasar dalam bermuamalah.

10. Mampu menjaga semua rahasia istri, tidak pernah menceritakan rahasia sekecil apapun kepada orang lain. Tidak suka memukul, menghina, dan mengejeknya.

11. Menafkahi istri dan anak-anaknya secara wajar, dengan tidak berlebihan dan tidak pula terlalu pelit, sebagaimana yang telah ditegaskan Rasulullah dalam sabdanya,

“Nikmat harta yang baik adalah yang dimiliki laki-laki yang shalih.”

(Shahih: Diriwayatkan oleh Imam al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah, 10/91,2495.)

12.Seorang suami yang berbicara kepada istri dengan cara  yang baik dan lembut serta menarik. Kata-kata yang baik yang memiliki pengaruh terhadap jiwa. Ketika istri berbicara, ia mendengar pendapatnya.

13. Mampu mempergauli istri secara makruf dan menghormatinya, sementara sang istri pun mengormatinya dan tidak merasa takut. Ia memuliakan istri dan mengangkat derajatnya, senang menasihatinya jika melakukan keselahan  sehingga istri merasa aman dan tenteram hidup bersamnya.

14. Seorang suami yang bersuka cita dengan segala nilai hikmah dan perbuatan yang baik serta amal shalih.

15. Seorang suami yang mencintai istrinya dan senantiasa memberi motivasi dalam beramal. Apabila menghukum istrinya maka ia lakukan dengan cara yang sangat bijaksana. Apabila marah, ia tetap bersikap adil, dan jika memberi ia sangat pemurah.

 



Sumber: Cerdas Memilih Jodoh, hal 10-13, Oleh Zainal Abidin bin Syamsuddin.

2 komentar:

  1. Masya Allah tabarakallah.. hatur nuhun ilmunya neng 🤗 semangat terus nulisnya biar terus menebar ilmu yg bermanfaat 😊

    BalasHapus
  2. Sami2 tthku, ashiappp in syaa Allah semangatt teruss hihii

    BalasHapus