MENUJU KELUARGA SAMARA
Membina
keluarga SAMARA (Sakinah Mawaddah Warahmah), tidaklah semudah membalik telapak
tangan. Ada banyak faktor yang menjadi penunjangnya. Adapun salah satu faktor
penting yang menjadi dasar terbentuknya keluarga samara adalah pengetahuan dan
tekad kuat dari masing-masing suami istri dalam menjalani hak dan kewajibannya.
Cobalah renungkan wahai saudariku
tercinta, seorang gadis ingin menikah namun pada saat malam pernikahan, seorang
ustadz memberitahukan tentang hak-hak suami yang harus dipenuhi. Ternyata dia
menganggap cukup berat dan sulit, sehingga langsung mundur dan mengatakan “Saya
tidak berminat untuk menikah saat ini, semoga nanti Allah memberi kepadaku
jodoh yang lebih baik.”
Boleh jadi kasus ini dianggap aneh.
Namun ada suatu peristiwa yang hampir sama dengan kisah di atas. Sebagaimana
yang kita dapatkan di dalam hadits Nabi ﷺ yang diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri
Rahdyiallahu anhu bahwa ada seorang laki-laki bersama puterinya datang kepada
Nabi ﷺ dan berkata, “Puteriku tidak mau
menikah.” Maka beliau berkata kepadanya, “Taatilah
bapakmu” Dia berkata, “Aku tidak mau menikah hingga engkau kabarkan kepdaku
tentang hak suami atas istrinya?” Hingga ia mengulang-ulangi pernyataannya.
Beliau
ﷺ bersabda,
“Hak suami atas istrinya, bila suami ada
borok lalu ia menjilatinya atau hidungnya mengalirkan nanah atau darah kemudian
ia menjilatinya maka ia belum menunaikan haknya. Ia berkata, “Aku tidak akan
menikah selamanya. “maka beliau bersabda kepada (bapaknya), “Janganlah kamu
nikahkah kecuali atas izinya.” (Shahih
: HR. Imam Ibnu Hibban)
Bukankah
gadis di atas seorang wanita shalihah dan bertakwa, yang ingin mengetahui
hak-hak suami sebelum memenuhi keinginan bapaknya untuk menikah agar nanti
tidak menyia-nyiakan hak-hak suami karena tidak mampu, sehingga di akhirat
kelak akan ditanya tentang tanggung jawab tersebut? Berapa besar perbedaan
antara gadis di atas dengan gadis-gadis zaman sekarang yang dengan mudah
menerima tawaran pernikahan meskipun tidak faham dan tidak berusaha faham
bagaimana tanggung jawab dan tugas rumah tangga, sehingga kebanyakan rumah
tangga mereka kandas di tengah jalan.
Banyak remaja tergiur untuk menikah karena seringnya nonton film dan sinetron murahan, yang menggambarkan kehidupan yang romantis dan jalinan cinta yang indah. Motivasi menikah karena terpengaruh oleh gaya film atau sinetron akan merapuhkan kehidupan rumah tangga mereka setelah menikah karena motivasinya bukan ilmu syar’i. Oleh sebab itu para remaja baik laki-laki maupun wanita yang akan menikah, sebaiknya diberi bimbingan tentang kewajiban-kewajiban berumah tangga, sebelum mengenal hak-hak mereka. Bila hal ini dilakukan, maka lambat-laun kasus perceraian dapat ditekan sekali mungkin. Dan keharmonisan rumah tangga dapat tercapai dan idealisme hidup mampu terwujud.
.
.
.
Sumber: Cerdas
Memilih Jodoh, hal 142-145, Oleh Zainal Abidin bin Syamsuddin

