Sabtu, 26 Juni 2021

MEMENUHI HAK-HAK SUAMI

MEMENUHI HAK-HAK SUAMI

 

Banyak pasangan suami istri yang teledor tehadap hak dan kewajiban masing-masing. Sehingga cenderung meremehkan dan tidak mengerti bahaya dan konsekwensi bila hak-hak tersebut tidak terpenuhi. Sementara pernikahan akan langgeng dan kasih sayang akan tumbuh bila semua pihak memahami dengan baik masalah ini.



Saya telah mencoba merangkum sebanyak lima puluh lima hak bagi masing-masing pasangan baik suami maupun istri. Tetapi tidak semua hak-hak yang disebutkan di bawah ini bersifat wajib. Bahkan ada yang hanya terkait dengan etika dan norma sebagai pelengkap dan penyangga. Meskipun demikian, ada yang bersifat wajib, sehingga bila tidak terpenuhi pelakunya mendapatkan sanksi atau dosa. Berikut hak-hak suami :

 1.Menjaga harga diri dan kehormatannya.

 2.Menjaga kesucian dan martabatnya.

 3.Memelihara hartanya.

 4.Menghormati keluarga suaminya.

 5.Menghargai ketika ada disisinya.

 6.Menyanjungnya ketika tidak ada.

 7.Mencintai apa yang disenangi suami meskipun perkara yang tidak dicintai.

 8.Membenci sesuatu yang dibenci oleh sang suami meskipun bukan perkara yang harus dibenci.

 9.Memperhatikan sesuatu yang menjadi perhatian suami.

 10.Memalingkan pandangan dari segala yang tidak menarik bagi suami.

 11.Marah terhadap segala sesuatu yang menjadikan marahnya suami.

 12.Ridha terhadap segala sesuatu yang menjadikan ridhanya suami.

 13.Menganggap banyak terhadap pemberian yang sedikit.

 14.Jika mendapat pemberian banyak dibalas dengan penuh rasa syukur.

 15.Bangun tidur sebelum sang suami bangun.

 16.Tidur sesudah suami tidur.

 17.Tabah dan pemaaf bila suami tidak mengerti.

 18.Bersikap lemah lembut ketika suami sedang bersikap kasar.

 19.Berdiam diri ketika suami sedang emosi.

 20.Tidak boleh berpura-pura sakit dihadapan suami.

 21.Merestui semua keinginan suami.

 22.Tidak boleh menangis semantara suami sedang tertawa.

 23.Tidak boleh tertawa sementara suami sedang menangis.

 24.Tidak boleh memaksakan keinginan kepada suami.

 25.Jangan memaksakan kehendak dan pendapat kepada suami.

 26.Jangan sekali-kali memperlakukan suami seperti pembantu atau pekerja.

 27.Jangan suka mengkritik pekerjaan suami.

 28.Jangan mencela suami dalam aturan.

 29.Mengangkat harkat dan martabat suami di depan keluarga.

 30.Mengagungkan kedudukan suami di hadapan tetangga atau kerabat.

 31.Menampakkan kebaikan dan kehormatan suami.

 32.Menyembunyikan aib dan kekurangan suami.

 33.Jika mengeluhkan tentang keadaan, istri menanggapi penuh kearifan.

 34.Ikut bersedih hati ketika sedang sedih dan gelisah.

 35.Menghibur hatinya ketika dalam keadaan gundah.

 36.Menunggu di sisinya ketika sedang sakit.

 37.Memberikan bantuan bila sedang butuh.

 38.Meringankan beban berat yang dipikul suami.

 39.Menyambutnya ketika masuk rumah.

 40.Melepasnya ketika keluar rumah.

 41.Berdandan secantik mungkin.

 42.Memilih sikap yang paling sopan dan lembut.

 43.Memberi isyarat dengan cara yang paling sopan.

 44.Menampakkan perangai yang paling lembut dan halus.

 45.Memilih canda dan gurau yang paling bagus.

 46.Berusaha menumbuhkan kesenangan dan kegembiraan di hati dan mata suami.

 47.Membalas keburukan suami dengan kebaikan.

 48.Membalas kesalahan suami dengan maaf.

 49.Mengabulkan permintaan maaf sang suami.

 50.Tidak melakukan shalat dan puasa sunnah kecuali atas seizinnya.

 51.Berterima kasih dan mendoakan atas bantuan dan kebaikan suami.

 52.Memilih kalimat yang indah ketika berbicara dengan suami.

 53.Membersihkan rumah sebisa mungkin.

 54.Merapihkan rumah sebaik mungkin.

 55.Tidak keluar rumah kecuali atas seizinya.

Sebagian wanita merasa keberatan dengan hak-hak suami atas istrinya yang begitu banyak. Cukup dengan hadits Nabi di bawah ini seorang istri bisa mengerti harga dan nilai hak-hak suami.

“Andaikata seseorang boleh sujud kepada yang lain, maka aku akan memerintahkan wanita sujud kepada suaminya.” (Shahih : Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunannya, no. 1852 dan 1853 dan dishahihkan Syaikh al-Albani.)

Banyak di antara mereka bahkan menganggap mustahil dan terlalu mengada-ada. Namun bagi orang yang mau merenungkan dengan baik pasti mendapatkan kesimpulan, bahwa barangsiapa yang mengamalkan sifat-sifat di atas, tidak diragukan lagi menjadi istri teladan.

.

.

.

Sumber: Cerdas Memilih Jodoh, hal 151-155, Oleh Zainal Abidin bin Syamsuddin